Selasa, 23 November 2010

Kerajinan dari Tempurung Kelapa Sukses Menjadi Pengusaha Tas dengan Modal Rp 16 Juta

JAKARTA – Sukses bisa datang tiba-tiba, meski tidak semua orang bisa meraihnya. Hariyono Purwanta merupakan salah satu dari tiga pengusaha kerajinan dan tas yang terbuat dari tempurung kelapa cukup sukses. Padahal, pengusaha asal Yogyakarta ini menekuni usahanya masih baru. Namun, produknya sudah merambah ke berbagai negara dan kota-kota di Indonesia. Jika bagi orang pada umumnya tempurung kelapa merupakan barang sampah, namun bagi Hariyono barang sisa bisa berubah menjadi kerajinan dan tas yang terlihat etnik, natural namun modis. Kini pria berusia 35 tahun ini mampu menghasilkan 35 desain tas dibawah merek dagang UD Sumber Makmur. Inilah yang membuat Hariyono berbeda dengan pengusaha tempurung lainnya. Jenis desain tas yang dibuatnya masih lebih banyak dari pengusaha tas tempurung lainnya, yang kedua pengusaha lainnya ada di Yogyakarta dan Jawa Timur. Sebelum menjadi pengusaha tas, Hariyono telah merambah berbagai bisnis. Haryono memang orang yang sangat gigih. Semuanya diawali tanpa bantuan pihak lain. Pertama kali dia melakukan budidaya ternak ayam petelor yang kemudian merambah ke usaha pupuk. Usaha yang digelutinya, tidak terlepas dari latar belakang pendidikannya di bidang pertanian, jurusan agronomi. Gagal sebagai sarjana pertanian, Haryono berhasil meraih gelar sarjana sarjana pendidikan dari Universitas H O S Tjokroaminoto. Ayah dua anak ini mulai menekuni bisnis tas berbahan baku tempurung sejak 2003 dirumahnya di Jalan Kaliurang Km 12,4 Candikarang Sardonoharjo Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Ketika itu, dia mendapat banyak informasi mengenai peluang pasar produk kerajinan di tingkat nasional maupun ekspor. Tak menunggu lama, dia segera mencari referensi dan berkonsultasi dengan orang-orang yang sudah berkecimpung sebagai perajin. Pilihannya jatuh pada produk berbahan baku tempurung kelapa karena melihat dilingkungan tempat tinggalnya tempurung kelapa terbuang sia-sia. “Dari belajar dengan teman-teman, saya bisa membuat tas dari tempurung kelapa seperti sekarang,” kata Hariyono. Mengawali sebagai pengusaha tas, Hariyono harus merogoh koceknya sendiri untuk membeli mesin senilai Rp 16 juta. Dari mesin pemotong tempurung yang akhirnya berbentuk seperti kancing bermula proses pembuatan tas. Tas yang dibuatnya umumnya adalah tas tangan, termasuk diantaranya kerajinan seperti kalung, gelang, tempat telepon selular yang semuanya terbuat dari tempurung kelapa. Pada mulanya, Haryono hanya mempekerjakan satu orang karena mesin yang dibelinya juga tidak banyak. Seiring dengan bertambahnya order, dirinya telah mampu membuka lapangan kerja 20 orang. Dalam empat, Haryono membutuhkan satu kwintal tempurung kelapa. Proses pembuatan tas dari tempurung ini lama karena dilakukan secara manual. Untuk menghasilkan satu tas saja bisa memerlukan proses enam hari yang dikerjakan oleh satu orang. Prosesnya dimulai dari memotong-motong tempurung sehingga berbentuk seperti kancing, dihaluskan, ditempel pada satu media, kemudian dihaluskan lagi bagian sisi luarnya, selanjutnya dijahit dengan tangan. Semuanya dilakukan dengan cermat sehingga hasilnya terlihat rapih. Mulai Dikenal Hariyono termasuk beruntung, pertama kali menghasilkan produknya telah ikut berpameran pada Forum Kesenian Yogyakarta VIII tahun 2003. Meski diakuinya untuk memasarkan produknya tidak mudah, namun ikut pameran membantunya memperkenalkan produknya pada pelanggan. Perlahan-lahan bisnis Hariyanto mulai memiliki banyak pelanggan. Produknya kini mulai banyak dipasarkan ke Jakarta, Surabaya bahkan banyak orang asing yang datang membeli langsung ke rumahya. Seluruh produk yang dibuatnya, biasanya habis terjual. Pemasaran dilakukan bersama-sama dengan isterinya Riyanti Tri Utami. Saya pernah mendapat order membuat 150 tas. Itu order terbesar yang pernah saya dapat,” ujarnya Menurutnya, kemampuannya membuat tas masih terbatas terutama karena mesin yang dimiliki masih sedikit. Dalam satu bulan, dia dapat membuat 1000 tas dengan mempekerjakan 350 orang. Haryono sangat mengharapkan mampu menghasilkan produk yang lebih besar. Akan tetapi keterbatasan dana yang dimiliki membuatnya belum dapat menambah jumlah mesin. Padahal, semakin banyak produk yang bisa dibuatnya maka bertambah juga tenaga kerja yang dibutuhkan yang secara langsung menyediakan lapangan kerja untuk orang-orang dilingkungannya. (SH/naomi siagian)
http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/usaha/2004/0918/ukm3.html

Usaha Membesarkan Ikan Bawal dan Nila

Kebutuhan pangan di Indonesia dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat banyak memberikan peluan bagi siapa saja yang mau memanfaatkannya. Apalagi kekayaan alam Indonesia sangat melimpah sehingga sangat mendukung dalam pengembangan usaha pangan. Sebagai negara beriklim tropis, Indonesia sangat diuntungkan dengan curah hujan yang cukup tinggi sehingga mendukung pengairan baik untuk pertanian maupun perikanan air tawar. Potensi akan kebutuhan ikan air tawar di wilayah Jogja cukup besar dimana selama ini untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus dipenuhi dari luar kota.
Berawal dari memanfaatkan kolam ikan peninggalan orang tua yang tidak dimanfaatkan dengan baik, Pak Sudaryo seorang warga Dusun Ponowaren Nogotirto mencoba memanfaatkan kolam ikan tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan kondisi aliran irigasi yang cukup baik untuk pembesaran ikan, wilayah tersebut sangat prospek untuk budidaya ikan air tawar. Selain itu, kelebihan budidaya ikan air tawar dibanding binatang ternak yaitu tidak membutuhkan modal yang cukup besar tetapi hasilnya cukup maksimal serta pemeliharaan yang relatif mudah.
Sumber: http://bisnisukm.com/usaha-membesarkan-ikan-bawal-dan-nila.html

Sukses Menjadi Pengusaha Ikan Nila

Bapak Lestarianto pernah menolak uang muka 1.5 miliar untuk memenuhi ekspor nila ke Korea. Maklum, dia sendiri sudah "keteteran" untuk memenuhi pasokan 75 ton ikan nila untuk ekspor dan 150 ton ikan nila untuk pasar lokal. Jika harga rata-rata ikan nila Rp 14.000 per kg, bayangkan berapa omzetnya per bulan? Kesuksesan yang diraihnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karier dalam meraup untung dari nila ini dimulai sejak tahun 1990. Awalnya, Tari merupakan seorang pemilik industri garmen yang juga ikut membantu mengurusi kolam pancing milik orangtuanya seluas 1.000 m2. Seiring berjalannya waktu, Tari melihat bahwa bisnis di bidang perikanan Iebih menarik dan lebih menjanjikan dibandingkan dengan garmen. Karena itu, Tari mulai serius dan terus mengembangkan kolam pancing orangtuanya.
Kolam budi daya yang hanya 1.000 m2 terus berkembang menjadi 8.000 m2. Tidak hanya itu, Tari pun menciptakan jaringan atau jalur pemasaran ikan nila hasil panennya. Awalnya, di Kedungombo, kemudian ke Cangklik, Sleman, Jatiluhur, Cirata, Bandung, bahkan hingga ke Bali. Berdasarkan perhitungannya, rata-rata per bulan dapat memasarkan 225 ton ikan nila. Jumlah ini tidak hanya berasal dari panen kolam darat, tetapi juga dari 132 keramba di Kedungombo yang ikut menyuplainya. Selain 132 keramba jaring apung, Tari juga memiliki 80 kolam air deras di Janti. Dari jumlah kolam dan keramba ini, setiap bulan Tari membutuhkan 200-250 ton pakan. Dengan harga pakan rata-rata Rp 6.500 per kg, Tari memiliki kewajiban membayar pakan ke pabrik 1.3-1.65 miliar per bulan. "Namun, namanya usaha, pasti ada untung ada rugi," kata Tari. "Karena pernah mengalami pergantian pakan, saya pernah rugi 1.129 miliar," ungkapnya dengan tenang. Anehnya, walaupun pernah mengalami kerugian hingga lebih dari satu miliar, Tari sampai saat ini tidak pernah melibatkan bank. "Semua modal sendiri, tidak ada hutang dengan bank," ujarnya. "Kuncinya adalah konsisten," tegas Tari ketika ditanya kunci suksesnya. Berdasarkan perhitungan Tari, jika suplainya tersedia, dia akan sanggup untuk memasarkan ikan nila dari Jawa hingga Bali sebanyak 1.000 ton per bulan.
Demikian kisah Bapak Lestarianto yang telah menangguk sukses besar dalam budi daya dan bisnis ikan nila. Anda pun bisa mengikuti jejaknya, tidak mesti langsung dengan skala besar, Anda bisa memulainya dari skala kecil dahulu. Bagaimana dengan persiapan, biaya, dan teknik pemeliharaannya? Nah, AgroMedia Pustaka menerbitkan "Buku Pintar Budi Daya & Bisnis Ikan Nila" yang akan membantu Anda secara mudah, praktis, dan bijak. Seluruh informasi yang Anda butuhkan telah dibahas secara rinci di dalamnya. Buku yang ditulis oleh Bernard T. Wahyu Wiryanta, Sunaryo, S.P., Astuti, S.P., dan M.B. Kurniawan ini membahas seputar budi daya dan bisnis ikan nila, mulai dari prospek bisnis ikan nila, sistem budi dayanya, teknik pembenihan, sistem pendederan, teknik pembesaran, pengenalan dan penanganan hama dan penyakit, pemanenan, hingga pemasaran. Selain itu, sebagai motivasi dan menambah bukti keyakinan Anda, disertai pula dengan kisah-kisah sukses petani ikan nila. Dari kisah-kisah ini, Anda bisa menimba pengalaman dan harapan bahwa usaha yang akan Anda mulai telah terbukti keberhasilannya. Bahkan, jika Anda merasa kesulitan membuat simulasi biaya pertama, Anda juga bisa merujuk ke contoh-contoh simulasi usaha ikan nila yang terdapat di dalam buku ini.
Sumber:http://agromedia.net/distributor/Review/sukses-menjadi-pengusaha-ikan-nila.html

Pengusaha Lele Asal Bogor

Mungkin anda pernah membaca di koran atau menonton berita tentang mereka berdua, Nasrudin (61) dan Ade (32). Mereka berdua adalah pengusaha lele yang sama-sama berasal dari Bogor, Jawa Barat. Sebenarnya Nasrudin lah yang menginspirasi Ade untuk turut menjadi pengusaha lele. Awalnya Nasrudin beternak lele dengan benih sekitar 100.000 ekor lele sangkuriang pada tahun 2001 dan dia mendapatkan benih tersebut dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi. Kini berkat ketekunan Nasrudin, dia mampu membesarkan lele dengan teknik yang jitu dan juga mampu mengobati lele yang terserang penyakit, seperti radang kulit, dengan obat herbal ramuannya sendiri. Nasrudin mulai dijuluki "Letkol" oleh para pembudidaya lele dan warga desanya, yang kepanjangannya adalah Lele Kolam. Dia dikenal tidak segan-segan untuk membagi pengetahuannya seputar budidaya lele kepada mereka yang ingin serius belajar tentang budidaya lele. Nasrudin bersama kelompok pembenih lele sangkuriang lainnya mengaku ingin memproduksi sekitar 1,5 juta benih lele sangkuriang setiap bulan agar bisa memasok anggota kelompok budidaya lele sangkuriang yang saat ini jumlahnya 50 orang. Dia berharap dengan produksi benih sebanyak itu, akan mampu memenuhi kebutuhan lele di Jakarta. Perlu anda ketahui, untuk wilayah Jabotabek saja kebutuhan lele mencapai hingga 75 ton sehari dan pemasoknya berasal dari Jawa Barat dan Jawa Tengah. Masa depan budidaya lele cukup cerah sebab Muhamad Abduh Nur Hidayat, anggota staf Ditjen Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan, mengatakan bahwa ikan lele akan dijadikan komoditas ketahanan pangan.
Untuk konsepnya sendiri sedang dipersiapkan. Sementara itu cerita Ade beda lagi, awalnya ayah Ade yang bernama Muchtar (59) yang beralih profesi sebagai pembenih lele mendapat informasi tentang Nasrudin sang pengusaha lele yang sukses dari Bogor. Akhirnya datanglah Muchtar ke tempat Nasrudin untuk bertemu. Setelah pertemuan itu Muchtar menyuruh anaknya yaitu Ade, Wawan, dan Trimulyana untuk belajar mengenai pembenihan lele kepada Nasrudin. Sepulang dari pelatihan tersebut, Ade langsung menerapkan semua jurus-jurus jitu cara memelihara, memberikan pakan, dan mengatasi penyakit ikan secara tepat. Dan sekarang usahanya sudah jauh berkembang karena dia memberi perlakuan khusus untuk menekan angka kematian benih. Ade mengaku kini lebih berkonsentrasi di bidang pembenihan.
Sumber:http://bibitlelesangkuriang.blogspot.com/2010/05/pengusaha-lele-asal-bogor.html

Peluang Bisnis Susu Kedelai, Mudah Memulainya

Kedelai saat ini sangat dikenal sebagai bahan baku tahu dan tempe. Tapi sebenarnya, bukan hanya tempe dan tahu saja yang bisa dihasilkan dai kedelai. Kedelai juga bisa dijadikan produk susu kedelai. Kedelai terbukti berkasiat bisa menyembuhkan beraneka ragam penyakit. Kandungan gizi yang sedemikian rupa, menjadikan kedelai layak dijadikan bahan utama konsumsi masyarakat Karena itulah, peluang usaha susu kedelai ini menjadi menarik. Selain kandungan gizi yang demikian baik, susu kedelai ternyata sangat nikmat. Selain rasa asli kedelai, susu kedelai ternyata juga bisa ditambah sari buah untuk mendapatkan rasa yang beraneka ragam. Sebut saja saat ini ada susu kedelai rasa strawberry, jeruk, dll
Cara memulai bisnis susu kedelai tidak sulit. Anda hanya membutuhkan satu mesin pembuat susu kedelai. Harganyapun terjangkau. Anda bisa mendapatkan alat ini di Susu Kedelai. Susu kedelai bisa dikemas dalam bungkus plastik, atau bisa juga dalam bentuk CUP. Jika ingin dikemas dalam kemasan cup, Anda bisa mendapatkan mesin cup sealer di MesinPengemas. Sebagai referensi, salah satu pengusaha susu kedelai di Malang, bisa menghasilkan 40-50 bungkus susu per kg kedelai. Harga susu per bungkus Rp 1000. Profit per kg kedelai mencapai Rp 30.000. Pemasaran masih dengan cara tradisional di pasar. Jika dikelola dengan baik, pasti bisnis susu kedelai tersebut bisa menghasilkan omzet dan keuntungan yang besar.
Sedikit saran untuk pengusaha susu kedelai, mungkin sekarang ini memang banyak susu kedelai yang beredar dipasaran dan dengan harga yang sangat terjangkau. Namun sebagai penikmat susu kedelai dan konsumen susu kedelai saya rasakan belum ada yang mematenkan susu kedelai tersebut dengan kualitas terbaik. Karena yang saya rasakan saat ini susu kedelai yang ada dipasaran belum memenuhi standar kualitas yang baik, contoh dari segi kemasan terkadang banyak yang hanya menggunkan plastic kecil dan itupun jika tidak disimpan di pendingin satu hari pun sudah basi. Jadi menurut saya jika ada susu kedelai dengan kualitas yang baik serta mempunyai hak paten mungkin bisa juga dipasarkan di swalayan-swalayan dengan tampilan yang menarik serta mempunyai rasa yang lebih nikmat dan segar, atas perhatiannya saya ucapkan terimaksih banyak.
Sumber: http://www.bisnismakanan.com/

Industri Terigu Tak Permasalahkan Pengembangan Sorgum

Industri Terigu Tak Permasalahkan Pengembangan Sorgum
Kontanonline
JAKARTA. Industri terigu domestik tak mempermasalahkan langkah pemerintah untuk mengembangkan sorgum sebagai sunstitusi gandum. Wakil Direktur Utama PT Indofood Sukses Makmur Tbk., induk usaha Bogasari Franciscus Welirang mengungkapkan, pihaknya siap-siap saja kalau memang produksinya mencukupi dan sudah ada spesifikasi sorgum yang tepat untuk bahan panganan. “Pemerintah harus membuat dulu standar spesifikasinya, mana yang food grade, mana yang industrial grade dan mana yang cocok untuk pakan ternak, jangan disamakan, kalau itu sudah terbentuk dan volumenya besar, kita siap menyarap,” tandasnya.
Sorgum merupakan tanaman serelia atau biji-bijian yang biasa digunakan sebagai bahan pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Menurut Organisasi Pangan Dunia (FAO) sorgum berada di urutan ke lima sebagai bahan pangan yang paling banyak dikonsumsi di dunia setelah gandum, padi, jagung dan barley. Selama ini, Indonesia mengimpor gandum sedikitnya 5 juta ton saban tahun. Dari 5 juta ton itu, sebanyak 4,5 juta ton diimpor oleh perusahaan pengolah (dari gandum ke terigu) dan sisanya, 500.000 ton diimpor langsung oleh produsen mie di Indonesia.
Komentar saya mengenai pengambangan sorgum di Indonesia sangat setuju, mengingat sorgum mampu ditanam di daerah yang tanahnya kering, dan mengingat di Indonesia banyak lahan yang dulunya adalah hutan berubah menjadi tanah yang garsang tak terurus. Apabila pemerintah kita dapat memanfaatkan lahan tersebut ditanami sorgum maka indonesia tak perlu lagi impor terigu, karena sorgum bisa dijadikan terigu dan bahan pangan lainnya karena sorgum memiliki banyak kandungan gizi yang dibutuhkan oleh manusia, selain untuk bahan bakar seperti etanol sorgum sendiri bisa juga sebagai pakan ternak. Jadi dengan kata lain banyak sekali manfaat dari sorgum itu sendiri, akhir kata saya ucapkan banyak terimakasih sebelumnya.
Sumber: http://indonesiacompanynews.wordpress.com/2010/07/28/industri-terigu-tak-permasalahkan-pengembangan-sorgum/

Dari Langkat, Keramik Tanah Liat Menggeliat Sampai Jauh

Keramik tanah liat tidak ada matinya. Produk kerajinan ini masih menjadi pilihan pelengkap perangkat hiasan interior dan eksterior ruangan. Pasarnya cukup luas hingga ke mancanegara. Asal ada inovasi produk, pasti pesanan akan terus mengalir bersamaan dengan laba yang menjanjikan. Meski usianya baru lima tahun, Langkat Keramik, pengrajin keramik berbahan baku tanah liat berbasis di Medan, Sumatera Utara, terbilang sukses. Produk-produknya sudah melanglang buana ke berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Swedia, Spanyol, dan Timur Tengah. Kusna Hendrika dari Divisi Pemasaran Langkat Keramik bercerita, ilmu membuat bermacam-macam jenis keramik didapat dari berguru ke sejumlah sentra industri keramik di Tanah Air termasuk Plered, Purwakarta, yang namanya sudah kesohor ke mana-mana. "Walaupun berdiri pada 2005 lalu, kami baru memulai produksi di 2008," ungkap Kusna.
Saat ini, Langkat Keramik memiliki 17 perajin dan tujuh staf kantor. Produk keramik buatan mereka, antara lain tembikar, vas, serta pot bunga berukuran besar beraksen dan berornamen. Produksi keramik tanah liat Langkat Keramik 100% murni buatan tangan. Ya, kalaupun ada bantuan mesin, perannya tidak banyak-banyak amat. "Kapasitas produksi kami mencapai satu kontainer atau 2.000 unit per bulan," tutur Kusna. Kelebihan keramik made in Langkat Keramik ini terletak pada tanah liatnya yang hanya dengan sedikit campuran. Sumber bahan baku mereka berasal dari Sumatera Utara.
Harga jual produk Langkat Keramik bervariasi, mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 10 juta per buah. "Secara total omzet kami per bulannya antara Rp 50 juta hingga Rp 60 juta untuk pasar lokal saja," kata Kusna.
Tapi, pasar lokal Langkat Keramik masih sebatas menjangkau Pulau Sumatra doang. Tahun ini, mereka baru menjajal pasar di Jawa dengan mengikuti beberapa pameran. "Kami berniat membuka galeri di Jakarta," ungkap Kusna.
Tentu saja, Langkat Keramik harus bersaing dengan industri keramik tanah liat di Jawa yang usianya sudah puluhan tahun, termasuk dengan guru merek, para perajin dari Plered. Eman Sulaeman, misalnya, perajin dari Plered yang berkibar melalui Wisman Wijaya Keramik.
Eman yang juga Ketua Kelompok Kerja Klaster Keramik Plered mengatakan, usaha kerajinan keramik di daerahnya sudah ada sejak zaman kakek buyutnya. Setelah berguru dari kakek dan ayahnya, ia akhirnya mendirikan usaha sendiri pada 1993 lalu. "Dulu sekitar 70% dari produksi untuk ekspor," katanya. Tapi, begitu krisis moneter melanda pada 1997-1998, pesanan ekspor menyusut. Eman pun sempat kelimpungan. Karena langganannya di pasar lokal sudah beralih ke perajin lain. Kini, Eman mulai memperluas pasarnya kembali. Sekitar 60% produknya masuk ke pasar lokal, sisanya untuk ekspor. Omzet per bulan masih sebesar Rp 10 juta. "Asal ada inovasi produk, pasti ada aja order yang masuk," katanya.
Sedikit saran untuk pengrajin keramik tanah liat, mungkin untuk mencari inovasi-inovasi baru bisa diadakan kerjasama dengan universitas-universitas terdekat/mungkin bisa dengan sekolah menengah kejuruan terdekat. Jadi selain mendapatkan inovasi/model terbaru dari kerajinan tersebut juga dapat membantu para pelajar untuk mampu berkembang dengan ide-ide yang mereka munculkan nantinya untuk produk tersebut. Sebagai media pengenalan produk dapat dilakukan melalui blog, web atau dari seminar-seminar disekolah-sekolah dan universitas-universitas lain dan akhir kata terimaksih atas perhatiannya.
sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/51766/Dari-Langkat-keramik-tanah-liat-menggeliat-sampai-jauh
http://www.sentrakukm.com/index.php/beranda/459-dari-langkat-keramik-tanah-liat-menggeliat-sampai-jauh

Tempurung dari Blitar Tak Lagi Murung

Siapa tak kenal kerajinan tempurung kelapa. Di sejumlah kota besar dan tempat-tempat wisata, kerajinan tangan ini gampang dijumpai. Bentuknya macam-macam. Namun hampir semua kerajinan dari bahan limbah ini dibiarkan memiliki warna seperti aslinya. Serba coklat alami. Berkesan eksotik. Di Jawa Timur, ada ratusan perajin tempurung kelapa. Jumlahnya terus bertambah karena keberadaan limbah buah kelapa juga melimpah. Layaknya membuat kerajinan, mengolah tempurung kelapa juga butuh keterampilan. Teknologi yang dipakai tak perlu canggih. Sentuhan inovasi membuat kerajinan ini semakin diminati sampai mancanegara. Bagi Hepicsa Setiayuda, perajin tempurung kelapa asal Blitar, ide awal memulai usaha ini dilatarbelakangi limbah tempurung kelapa yang melimpah di kawasan rumahnya. “Pohon kelapa tumbuh melimpah di Desa Seduri, Kecamatan Wonodadi. Waktu itu yang diolah cuma isi buahnya saja, tempurungnya dibuang dan numpuk. Di tempat lain ada yang dipakai bahan baku briket tapi tidak banyak, mungkin karena teknologi pengolahnya juga terbatas,” jelas pria kelahiran 2 Maret 1984 ini, ditemui di sela Jatim Fair di Grand City.
Paman Hepic iseng-iseng mengolah tempurung sendiri dengan dibantu mesin potong sederhana yang berukuran kecil. Dari situlah usaha berawal, sekitar 11 tahun silam. “Dulu modalnya kecil sekali, sekarang omzet per bulan tak kurang dari Rp 70 juta. Tahun ini termasuk sepi order karena perajin sudah sangat banyak, jadi persaingannya ketat dan tidak bisa pasang harga tinggi. Order dari mancanegara sekarang tinggal Malaysia dan Thailand saja,” katanya.
Jenis kerajinan yang banyak dipesan seperti, lampu hias dan tas fashion. “Sebetulnya apapun jenis usaha pengolahan limbah, jika di-support maka bisa sangat berkembang. Kendalanya justru bukan modal, tapi lebih ke inovasi dan pemasaran. Ini mengingat pasar kerajinan tempurung kelapa di pasar domestik sudah mulai jenuh,” jelas Hepic. Diakuinya, untuk mengekspor tidak mudah. “Standar kualitas harus tinggi, jumlah produksinya juga harus stabil,” ujar alumni Pendidikan Keguruan dari Universitas Surabaya ini. Melalui gerai Butik Kelapa, Wood and Coconut, Hepic dan 78 warga kampungnya kini mampu memroduksi 200 unit barang per jenis. Saat ini ada sekitar 50 jenis barang, antara lain celengan, tempat tisu, dompet, topeng, ragam aksesori, tas, hiasan interior ruangan.
“Sistem kerjanya borongan dan pengerjaannya bisa di rumah warga sendiri, finishing-nya baru di pabrik saya. Tapi khusus jenis lampu hias, pengerjaannya tidak bisa langsung banyak karena tenaga ahlinya cuma satu orang,” papar Hepic, yang biasanya memesan puluhan ikat tempurung sekaligus. Per ikat yang terdiri dari puluhan tempurung itu biasanya dihargai Rp 15.000. Untuk menggali pasar, Hepic menggali ide melalui browsing di dunia maya dan konsultasi pada eksportir. “Usaha saya dapat pembinaan dari Universitas Brawijaya dan Dinas Sosial Provinsi Jatim. Inovasi kadang juga digali dari sana,” ujarnya. Ke depan, mantan guru SD ini mengaku, bakal menjelajah pasar ekspor Australia dan AS. “Kapan hari sudah ada penawaran dari buyer di sana. Tinggal saya inovasi produk dan kirim contoh,” jelas sulung tiga bersaudara ini.
Hepic dipercaya mengelola usaha limbah tempurung kelapa ini lantaran tinggalnya tak jauh dari rumah paman. Selain karena anak-anak pamannya yang masih berusia sekolah dasar, orangtua Hepic sendiri juga berprofesi sebagai guru dan memiliki adik-adik yang masih kecil.
Sedikit saran untuk pengrajin tempurung dari blitar, untuk mencari inovasi-inovasi baru mungkin bisa diadakan kerjasama dengan universitas-universitas terdekat/mungkin bisa dengan sekolah menengah kejuruan terdekat. Jadi selain mendapatkan model baru dari kerajinan tersebut juga dapat membantu para pelajar untuk mampu berkembang dengan ide-ide yang mereka munculkan nantinya untuk produk tersebut. Sebagai media pengenalan produk dapat dilakukan melalui blog, web atau dari seminar-seminar disekolah-sekolah dan universitas-universitas lain dan akhir kata terimaksih atas perhatiannya.
Sumber: http://www.sentrakukm.com/index.php/beranda/457-tempurung-dari-blitar-tak-lagi-murung

Kotak Antik Ini Bakal Menjadi Langka

Sentra kerajinan kotak antik di Kelurahan Sayang-Sayang Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat kesulitan bahan baku, sehingga harus mendatangkan dari luar daerah. "Bahan baku untuk kerajinan kotak antik sebagian besar adalah kayu mahoni sementara pihak Dinas Kehutanan kini telah mengeluarkan larangan untuk memotong pohon mahoni," kata Kadin Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Mataram, Drs. H. Marzuki Sahaz, Rabu (22/9/2010).
Hasil kerajinan kotak antik sebagian besar diekspor ke Australia, Selandia Baru, Belanda, Jerman dan Inggris baik langsung maupun melalui pesanan. Kotak antik diekspor melalui Bali dan Surabaya, sehingga yang punya nama adalah daerah lain, sementara Kota Mataram yang memproduksi kotak antik tidak dapat nama. Kotak antik diproduksi dengan berbagai jenis ukuran mulai dari kecil, sedang dan besar dengan harga satu set antara Rp 1 juta hingga Rp 10 juta. Ia mengakui, pemasaran kotak antik akhir-akhir ini masih lesu, akibat berkurangnya wisatawan yang berkunjung ke sentra kerajinan kotak antik, walaupun demikian perajin tetap berproduksi dengan bahan baku seadanya.
Bahkan ada sejumlah perajin untuk sementara beralih profesi menjadi petani ikan keramba sekaligus membuka rumah makan.
Saran untuk pengrajin kotak antik di Kelurahan Sayang-Sayang Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, coba untuk memasarkan hasil kerajinannya lewat internet, karena saat ini untuk usaha apapun bentuknya melalui dunia maya atau yang lebih kita kenal dengan internet sangat baik untuk prospek kedepannya. Jika memang untuk bahan baku dengan kayu mahoni dilarang mungkin bisa dicoba dengan bahan baku kayu yang lain yang dari segi kualitas yang baik juga dan dari harga terjangkau, dan untuk nama hasil kerajinannya dan akhir kata terimaksih atas perhatiannya.

sumber : www.kompas.com
http://www.sentrakukm.com/index.php/beranda/448-kotak-antik-ini-bakal-menjadi-langka