JAKARTA – Sukses bisa datang tiba-tiba, meski tidak semua orang bisa meraihnya. Hariyono Purwanta merupakan salah satu dari tiga pengusaha kerajinan dan tas yang terbuat dari tempurung kelapa cukup sukses. Padahal, pengusaha asal Yogyakarta ini menekuni usahanya masih baru. Namun, produknya sudah merambah ke berbagai negara dan kota-kota di Indonesia. Jika bagi orang pada umumnya tempurung kelapa merupakan barang sampah, namun bagi Hariyono barang sisa bisa berubah menjadi kerajinan dan tas yang terlihat etnik, natural namun modis. Kini pria berusia 35 tahun ini mampu menghasilkan 35 desain tas dibawah merek dagang UD Sumber Makmur. Inilah yang membuat Hariyono berbeda dengan pengusaha tempurung lainnya. Jenis desain tas yang dibuatnya masih lebih banyak dari pengusaha tas tempurung lainnya, yang kedua pengusaha lainnya ada di Yogyakarta dan Jawa Timur. Sebelum menjadi pengusaha tas, Hariyono telah merambah berbagai bisnis. Haryono memang orang yang sangat gigih. Semuanya diawali tanpa bantuan pihak lain. Pertama kali dia melakukan budidaya ternak ayam petelor yang kemudian merambah ke usaha pupuk. Usaha yang digelutinya, tidak terlepas dari latar belakang pendidikannya di bidang pertanian, jurusan agronomi. Gagal sebagai sarjana pertanian, Haryono berhasil meraih gelar sarjana sarjana pendidikan dari Universitas H O S Tjokroaminoto. Ayah dua anak ini mulai menekuni bisnis tas berbahan baku tempurung sejak 2003 dirumahnya di Jalan Kaliurang Km 12,4 Candikarang Sardonoharjo Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Ketika itu, dia mendapat banyak informasi mengenai peluang pasar produk kerajinan di tingkat nasional maupun ekspor. Tak menunggu lama, dia segera mencari referensi dan berkonsultasi dengan orang-orang yang sudah berkecimpung sebagai perajin. Pilihannya jatuh pada produk berbahan baku tempurung kelapa karena melihat dilingkungan tempat tinggalnya tempurung kelapa terbuang sia-sia. “Dari belajar dengan teman-teman, saya bisa membuat tas dari tempurung kelapa seperti sekarang,” kata Hariyono. Mengawali sebagai pengusaha tas, Hariyono harus merogoh koceknya sendiri untuk membeli mesin senilai Rp 16 juta. Dari mesin pemotong tempurung yang akhirnya berbentuk seperti kancing bermula proses pembuatan tas. Tas yang dibuatnya umumnya adalah tas tangan, termasuk diantaranya kerajinan seperti kalung, gelang, tempat telepon selular yang semuanya terbuat dari tempurung kelapa. Pada mulanya, Haryono hanya mempekerjakan satu orang karena mesin yang dibelinya juga tidak banyak. Seiring dengan bertambahnya order, dirinya telah mampu membuka lapangan kerja 20 orang. Dalam empat, Haryono membutuhkan satu kwintal tempurung kelapa. Proses pembuatan tas dari tempurung ini lama karena dilakukan secara manual. Untuk menghasilkan satu tas saja bisa memerlukan proses enam hari yang dikerjakan oleh satu orang. Prosesnya dimulai dari memotong-motong tempurung sehingga berbentuk seperti kancing, dihaluskan, ditempel pada satu media, kemudian dihaluskan lagi bagian sisi luarnya, selanjutnya dijahit dengan tangan. Semuanya dilakukan dengan cermat sehingga hasilnya terlihat rapih. Mulai Dikenal Hariyono termasuk beruntung, pertama kali menghasilkan produknya telah ikut berpameran pada Forum Kesenian Yogyakarta VIII tahun 2003. Meski diakuinya untuk memasarkan produknya tidak mudah, namun ikut pameran membantunya memperkenalkan produknya pada pelanggan. Perlahan-lahan bisnis Hariyanto mulai memiliki banyak pelanggan. Produknya kini mulai banyak dipasarkan ke Jakarta, Surabaya bahkan banyak orang asing yang datang membeli langsung ke rumahya. Seluruh produk yang dibuatnya, biasanya habis terjual. Pemasaran dilakukan bersama-sama dengan isterinya Riyanti Tri Utami. Saya pernah mendapat order membuat 150 tas. Itu order terbesar yang pernah saya dapat,” ujarnya Menurutnya, kemampuannya membuat tas masih terbatas terutama karena mesin yang dimiliki masih sedikit. Dalam satu bulan, dia dapat membuat 1000 tas dengan mempekerjakan 350 orang. Haryono sangat mengharapkan mampu menghasilkan produk yang lebih besar. Akan tetapi keterbatasan dana yang dimiliki membuatnya belum dapat menambah jumlah mesin. Padahal, semakin banyak produk yang bisa dibuatnya maka bertambah juga tenaga kerja yang dibutuhkan yang secara langsung menyediakan lapangan kerja untuk orang-orang dilingkungannya. (SH/naomi siagian)
http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/usaha/2004/0918/ukm3.html
http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/usaha/2004/0918/ukm3.html