Selasa, 19 Oktober 2010

Artikel: Pengaruh Kompensasi yang Diterima Guru dan Penilaian Guru pada Kecemasan Siswa Terhadap Kinerja Guru

Pendidikan merupakan sebuah proses berkesinambungan yang seharusnya tidak boleh berhenti dan harus terus berjalan seiring dengan usia manusia. Pendidikan yang bermutu dan berkualitas tentunya akan menghasilkan sumber daya manusia yang dapat mengoptimalkan potensi sumber daya lainnya yang ada di negaranya. Seperti yang dikatakan Dr. Kartini Kartono bahwa kunci pembangunan masa mendatang bagi bangsa Indonesia adalah penddikan. Hal ini berarti, pendidikan diharapkan dapat menggerakkan setiap individu untuk meningkatkan kualitas keberadaannya serta mampu berpartisipasi dalam gerak pembangunan. Lebih jauh dikatakan oleh Kartini Kartono, bahwa pendidikan merupakan alat untuk memperbaiki keadaan sekarang, juga untuk mempersiapkan dunia esok yang lebih sejahtera. Untuk itu, mengingat bahwa pendidikan merupakan masalah yang amat kompleks dan teramat penting karena menyangkut macam-macam sektor kehidupan bagi pemerintah dan rakyat Indonesa, maka perlu pemecahan langkah-langkah pemecahan permasalahan secara terpadu.

Pentingnya pembelajaran setidaknya dapat mendorong bangsa Indonesia untuk mempercepat pengembangan sumber daya manusia yang tangguh dan berdaya saing tinggi di kanca global. Namun demikian, dalam proses belajar di sekolah, para siswa masih menomorduakan pelajaran matematika dari mata pelajaran yang lainnya. Sering kali siswa mengeluh belajar matematika, sulit dimengerti dan menjenuhkan, sehingga tidak mengherankan jika nilai prestasi matematika yang dicapai siswa masih jauh dari harapan.

Akan tetapi, bila siswa tersebut akan menghadapi ujian, siswa akan berusaha belajar dan belajar untuk memperoleh nilai yang terbaik dan akhirnya lulus ujian. Ketakutan di sini sebenarnya menimbulkan 2 respon, yaitu respon positif dan respon negatif. Respon positif mengandung arti, siswa ketakutan dalam menghadapi ujian, kemudian belajar untuk mengejar standar minimal yang harus dimilikinya sehingga dapat lulus dalam ujian. Akan tetapi, respon negatif sebaliknya, siswa ketakutan dan akhirnya justru tidak dapat berkonsentrasi dan tidak dapat belajar dengan maksimal sehingga tidak dapat mencapa standar minimal yang harus dimilikinya.

Guru sebagai salah satu unsur dalam PBM memiliki multi peran, tidak terbatas hanya sebagai pengajar yang melakukan transfer of knowledge, tetapi juga sebagai pembimbing yang mendorong potensi, mengembangkan alternatif, dan memobilisasi siswa dalam belajar. Artinya, guru memiliki tugas dan tanggung jawab yang kompleks terhadap pencapaian tujuan pendidikan, dimana guru tidak hanya dituntut untuk menguasai ilmu yang akan diajarkan dan memiliki seperangkat pengetahuan dan keterampilan teknis mengajar, namun guru juga dituntut untuk menampilkan kepribadian yang mampu menjadi teladan bagi siswa.

Melihat tugas guru, seharusnya guru layak diberikan penghasilan yang layak, akan tetapi di beberapa daerah, masih banyak ditemukan guru yang mengajar sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa" dan pekerja sosial, yang akhirnya benar-benar sial. Hal ini terbukti dengan minimnya gaji guru di sekolah-sekolah. Pemerintah sebagai penentu kebijakan belum menghargai guru sebagai sebuah profesi yang memberikan banyak kontribusi bagi pendidikan dan pembangunan bangsa Indonesia. Guru sebagai sebuah profesi yang sebenarnya menghasilkan para pemimpin bangsa, profesi-profesi lain seperti dokter, pengacara, dan lain-lain, justru dianggap sebagai warga kelas 2 yang dipandang sebelah mata.


Permasalahannya rendahnya kualitas pendidikan Indonesia disebabkan oleh banyak faktor, salah satu diantaranya mungkin disebabkan oleh rendahnya kinerja guru. Kinerja dianggap sebagai hasil kerja seorang guru yang pada akhirnya tercermin dalam prestasi belajar siswa yang diajarnya. Dalam penelitian ini, penulis ingin melihat seberapa besar pengaruh kompensasi yang diterima guru dan penilaian guru pada kecemasan siswa terhadap tingkat

Simpulan Dan Saran

Hasil penelitian ini memberikan hasil bahwa seluruh variabel bebas memberikan pengaruh terhadap variabel terikat, walaupun secara kuantitatif tidak terlalu besar. Artinya, bila variabel bebas ditingkatkan, maka akan memberikan perubahan pada variabel terikat, walaupun perubahan ini ada yang positif dan ada yang negatif. Dari hasil penelitian ini, penulis berusaha memberikan beberapa masukan :

1. Mengingat variabel kompensasi guru hanya memberikan sedikit kontribusi dalam peningkatan kinerja, maka perlu kiranya pemerintah mengkaji ulang tentang pemberian kompensasi berlebihan kepada guru, karena ternyata kompensasi ini tidak memberikan peningkatan yang cukup berarti.

2. Mengingat variabel penilaian guru terhadap kecemasan siswa memberikan kontribusi negatif dalam peningkatan kinerja, maka sebaiknya guru bidang studi tidak perlu mengetahui tentang tingkat kecemasan siswa, artinya guru bidang studi hanya bertugas sebagai pengajar, sedangkan tingkat kecemasan siswa diurus oleh guru lain yang lebih kompeten dalam hal psikologi siswa.

3. Mengingat keterbatasan waktu dan tenaga, penulis mengharapkan ada penelitian lanjutan, sehingga hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengambil kebijakan-kebijakan yang lebih strategis bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Sumber: http://re-searchengines.com/leonard0708.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar